September 24, 2021

Kasus Corona Meroket, “Tangkap dan Proses Hukum Oknum Mahasiswa Yang Melanggar Aturan Prokes”

Radarpapua – RP, Setiap polemik yang terjadi di Papua, dianggap oleh banyak pengamat sebagai buah dari upaya elit politik untuk menciptakan konflik baru. Elit politik dinilai telah menjual konflik untuk mendapatkan keuntungan pribadi, sehingga stigma Papua sebagai wilayah rawan konflik tidak bisa dielakkan.

Terkait dengan tindakan melanggar hukum yang dilakukan oleh dua oknum TNI AU di Kabupaten Merauke, saat ini juga dianggap sebagai salah satu upaya elit untuk memperpanjang konflik, meski perkembangan kasus tersebut telah diselesaikan. Bahkan melalui petinggi TNI pun mengancam agar pelaku dibawa pada peradilan umum.

Freddy Numberi sebagai tokoh senior Papua menganggap kasus di Merauke sarat kepentingan, oleh sebab itu mantan Menteri Perhubungan itu meminta agar masyarakat tidak terprovokasi dengan aksi-aksi yang bersifat spontanitas.

Selain itu, tidak bisa dipungkiri jika kelompok mahasiswa adalah salah satu komponen yang kerap dimanfaatkan oleh elit politik untuk menyuarakan isu/kepentingan lainnya. Padahal seharusnya mahasiswa sebagai generasi berpendidikan mampu memiliki semangat untuk membangun Papua, bukan terjerumus pada dunia gelap sebagai alat elit politik.

Terlebih situasi pandemi covid-19 mulai menjadi ancaman bagi wilayah Papua. Gubernur Papua Lukas Enembe pun secara terbuka sudah menyuarakan jika penanganan Virus Corona harus dilakukan sedini mungkin. Hal tersebut menghantui Enembe sebab pihaknya khawatir soal keterbatasan fasilitas kesehatan di Papua.

Sehingga pembatasan terhadap setiap kelompok yang berpotensi menghadirkan massa juga harus disikapi oleh aparat keamanan. Kepolisian dan TNI diharapkan mampu menghentikan mobilisasi massa yang dicurigai melakukan ‘aksi tunggangan’ yang telah terkoordinir tersebut. Bila perlu tindakan tegas harus dilakukan, tangkap dan proses hukum ‘otak’ dari aksi yang telah membuat kekhawatiran, sebab mereka telah melawan aturan yang ditetapkan pemerintah.

Yorrys Raweyai sebagai Ketua Forum Komunikasi dan Aspirasi MPR untuk Papua juga mengharapkan langkah nyata sehingga periswa yang terjadi di Merauke tidak menjadi isu liar yang berkembang diluar konteks.

“kasus sebelumnya, banyak aksi yang justru hanya mengganggu ketertiban umum. Jangan lagi terulang peristiwa buruk seperti itu. Papua ini tempat yang penuh kedamaian dan kasih sayang, jauhkan setiap bibit kekacauan dari tanah ini,”

Jadi mahasiswa stop atau hentikan provokasi-provokasi yang berdampak kepada kericuhan di ruang publik apalagi dalam kondisi pandemi covid 19, kalau tidak mau berurusan dengan hukum.