JAYAPURA — Ikatan Keluarga Minang atau IKM Kota Jayapura kembali menggelar pengajian rutin sebagai bagian dari upaya mempererat silaturahmi sekaligus memperkuat kepedulian sosial warga Minang di tanah perantauan.
Kegiatan yang dilaksanakan pada Minggu, 6 September 2026 berlangsung di dewan Wakil Ketua IKM Kota Jayapura, Bapak Sosra Antoni. Pengajian kali ini tidak hanya menjadi ruang untuk meningkatkan keimanan dan mempererat persaudaraan, namun juga membahas kepedulian bersama terhadap warga masyarakat yang mengalami musibah kebakaran.
Acara dibuka oleh MC Bundo Refila, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an yang dibawakan oleh Uni Usnida, sebagai pembuka rangkaian kegiatan.
Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua IKM Kota Jayapura, Ir. Iman Juniawal, yang sekaligus menyampaikan Beragam.

Dalam sambutannya, Ir. Iman Juniawal menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh warga Minang di Kota Jayapura yang telah menyumbangkan waktunya untuk hadir dan menjaga kebersamaan melalui kegiatan pengajian rutin.
«“Terima kasih sebesar-besarnya kepada seluruh warga Minang Kota Jayapura yang telah hadir. Pengajian ini bukan hanya menjadi wadah kita menambah ilmu agama, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat silaturahmi dan kepedulian kita terhadap sesama,” ujar Ir. Iman Juniawal.»
Ia juga menyampaikan atas musibah kebakaran yang dialami sejumlah warga masyarakat. Menurutnya, kondisi para korban perlu mendapat perhatian dan dukungan bersama.
“Kita juga berduka atas musibah kebakaran yang dialami saudara-saudara kita. Sampai saat ini mereka masih membutuhkan bantuan dan perhatian. Yang perlu kita ketahui, hampir seluruh warga yang terdampak musibah ini merupakan nelayan. Oleh karena itu, kita perlu duduk bersama membahas bentuk bantuan yang nantinya dapat kita berikan,” jelasnya.»
Kepedulian tersebut menjadi salah satu wujud nyata semangat kebersamaan warga Minang di perantauan. Sebab, bagi masyarakat Minangkabau, kehidupan di rantau tidak hanya berbicara tentang keberhasilan pribadi, tetapi juga bagaimana membangun persaudaraan dan saling membantu ketika ada anggota masyarakat yang menghadapi kesulitan.

Semangat itu sejalan dengan filosofi Minangkabau:
«“Dima bumi dipijak, di sinan langik dijunjuang.”»
Pepatah tersebut mengajarkan agar seseorang mampu menghormati dan menyesuaikan diri dengan lingkungan tempat ia berada. Namun sebagai warga Minang dalam perantauan, nilai persaudaraan dan kepedulian terhadap sesama tetap menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan.
Rangkaian pengajian kemudian dilanjutkan dengan tauziah yang disampaikan Imam Masjid Anugrah Residence Holtekamp, Ustadz Zaenal Abidin, S.Ag., Al-Hafidz.

Dalam tauziahnya, Ustadz Zaenal menekankan pentingnya menjaga silaturahmi. Menurutnya, silaturahmi bukan sekadar pertemuan, tetapi menjadi sarana untuk saling mengenal, memahami, menguatkan dan membantu satu sama lain.
“Silaturahmi harus terus kita jaga. Dengan silaturahmi, kita akan selalu saling mengenal di antara sesama kita. Ketika ada saudara yang mendapatkan musibah, kita mengetahui dan hadir untuk memberikan bantuan. Inilah salah satu bentuk kepedulian yang diajarkan dalam Islam,” pesan Ustadz Zaenal.»
Pesan-pesan tersebut semakin relevan dengan kondisi masyarakat yang sedang menghadapi musikbah. Kebersamaan tidak cukup hanya diwujudkan melalui doa, tetapi juga melalui tindakan nyata sesuai dengan kemampuan masing-masing.
Ustadz Zaenal Abidin kemudian menutup rangkaian pengajian dengan doa bersama, memohon kepada Allah SWT agar seluruh warga yang hadir diberikan kesehatan, keselamatan, keberkahan serta kekuatan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.
Kegiatan kemudian diakhiri dengan foto bersama seluruh peserta pengajian. Setelah itu, warga IKM Kota Jayapura melanjutkan pembahasan mengenai pengumpulan bantuan bagi masyarakat yang terdampak musibah kebakaran, sebagai bentuk solidaritas dan kepedulian sosial.

Bagi warga Minang di tanah rantau, kegiatan tersebut menjadi pengingat bahwa persaudaraan harus terus dijaga, baik dalam suka maupun duka.
seperti pepatah Minang mengatakan:
«“Kaba baiak bahimbauan, kaba buruak bahambauan.”»
Artinya, kabar baik disampaikan sebagai pemberitahuan, sementara ketika ada kabar buruk atau musibah, masyarakat bersama-sama datang dan memberikan dukungan.
Semangat itulah yang terus dibangun IKM Kota Jayapura: memperkuat silaturahmi, menjaga persaudaraan, serta hadir dan bergotong royong ketika ada saudara yang membutuhkan.
Karena di tanah rantau, badunsanak bukan hanya karena hubungan darah, tapi karena kepedulian dan kebersamaan.





More Stories
Semangat Kebersamaan Kajati Papua dengan Masyarakat Adat, Penyembelihan Satu Ekor Sapi Perkuat Pembinaan dan Pemberdayaan
Beras Lokal Papua Bertajuk SOSRA, Panen Perdana Capai 5 Ton
Kepedulian Emilianus Tikuk Bangkitkan Harapan Warga Papua untuk Hidup Lebih Sejahtera