November 27, 2021

Intan Jaya Bergejolak Aksi Separatisme, Kelompok Separatis Menyerang dan Membakar Pemukiman Warga

radarpapua, rp – Konflik bersenjata yang dibawa oleh kelompok separatis terus terjadi. Aksi separatisme di Papua bahkan sebelumnya sudah pernah dipetakan oleh salah seorang akademisi Universitas Gajah Mada, Dr. Gabriel Lele dalam keterangannya menyebut jika konflik di Papua dominan dilakukan oleh kelompok separatis yang akhirnya mengakibatkan penderitaan bagi masyarakat sipil.

Teror berupa aksi penyerangan dan pembakaran terhadap fasilitas di kawasan Bandara Bilogai, Kabupaten Intan Jaya (29/10) diketahui telah membuat situasi di wilayah tersebut kembali panas, dikabarkan ribuan masyarakat telah mengungsi ke gereja dan beberapa pos keamanan.

Atas konflik bersenjata yang terus terjadi di Kabupaten Intan Jaya, Pastor (Imam) Projo Gereja Katolik Keuskupan Timika menyerukan untuk tidak ada lagi penembakan-penembakan.

Disampaikan bahwa konflik bersenjata di Intan Jaya dan wilayah lain di Papua telah berakibat jatuhnya banyak korban jiwa, termasuk anak-anak, serta menimbulkan gelombang pengungsian warga sipil skala besar.

Padahal menurut Ketua Unio Pastor Dominikus Dulione Hodo, sebelumnya pada tanggal 12 Oktober 2021 pihaknya sempat menggelar Perayaan Ekaristi pentahbisan di Gereja Santo Misael.

“Tanggal 11 Okbtober rombongan Uskup Bandung Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, O.S.C dan Pastor Administrator Keuskupan Timika Pastor Marthen Kuayo masih sempat berkunjung ke Bilogai, ada ribuan masyarakat yang hadir dalam penyambutan,”

“Pada 12 Oktober 2021 berlangsung acara pentahbisan itu dengan hikmat. Semua orang terlibat langsung, baik masyarakat maupun aparat keamanan setempat. Terlihat ada kedamaian dan sukacita yang amat indah,”

“Baku tembak itu terjadi di tengah kota (Sugapa). Anda bisa bayangkan kalau baku tembak itu terjadi di tengah kota. Situasi itu menuntut kami para Imam Projo Keuskupan Timika harus bersuara,”

Ketentraman dan kedamaian lenyap dalam sekejap, setelah TPNPB-OPM memasuki kota dan melakukan penembakan dan pembakaran, dua orang anak tertembak. Aprianus Sondegau (2 tahun) meninggal dunia, dan Yoakim Majau (6 tahun) terkena serpihan peluru dan saat ini sedang menjalani perawatan.

Pemerintah pusat dalam setiap kesempatannya selalu menyampaikan pendekatan persuasif dalam menangani gejolak di Papua. Kapolda dan Pangdam sebagai otoritas keamanan di Papua pun beberapa kali sempat menyuarakan hal senada.

Menurut salah seorang tokoh pemuda Papua, Ali Kabiay, pemerintah dari waktu ke waktu selalu membuka kemungkinan alternatif untuk menyelesaikan konflik di Papua. Menurutnya pembangunan sejumlah infrastruktur, upaya mengurangi ketimpangan, penguatan bidang ekonomi, atau ketersediaan fasilitas Pendidikan/Kesehatan adalah salah satu contoh yang sudah dilakukan.

Namun menurut Kabiay, upaya tersebut seakan mentah. Dirinya mengatakan jika penyelesaian permasalahan isu papua justru terbentur oleh kepentingan dan egosentrisme dari kelompok separatis itu sendiri.