November 28, 2021

Mana Suara HAM: KKB Serang Kiwirok, Tenaga Kesehatan Alami Kekerasan

Radarpapua.com – KKB Serang Kiwirok, Tenaga Kesehatan Alami KekerasanKelompok Kriminal Bersenjata (KKB) kembali melakukan teror dan aksi biadab di Distrik Kiwirok, Kabupaten Pegunungan Bintang. Aksi tersebut berupa teror penyerangan, pembakaran dan pengrusakan fasilitas, serta tindakan asusila terhadap sejumlah tenaga kesehatan.

Peristiwa tersebut terjadi pada 13 September 2021 pukul 09.00 WIT, dimana KKB pimpinan Lamek Taplo berupaya mengacaukan situasi keamanan di Distrik Kiwirok. Aksi tersebut diduga masih berkaitan dengan ditangkapnya dua orang KKB pada 9 September sebelumnya.

“Tanggal 9 itu sudah ditangkap, baru kemarin (13/9) mereka serang lagi. Kami masyarakat takut karena mereka datang ke rumah-rumah, dari informasi mereka itu kelompok Lamek Taplo,” ungkap Nelson Kalakmabin sebagai tokoh masyarakat di Distrik Kiwirok.

Atas peristiwa tersebut sejumlah masyarakat mengaku mendapat tindak kekerasan, bahkan telah dikonfirmasi terkait 6 tenaga kesehatan dari Puskesmas Kiwirok yang sempat hilang hingga akhirnya ditemukan dalam keadaan penuh luka.

“Kemarin kami sempat cari-cari mantri dengan suster yang hilang, puji tuhan sudah ditemukan. Mantri dia tangan patah, ada juga yang kena panah. Cuma suster-suster ini yang membuat kami sangat marah karena melihat keadaannya. Ada yang dapat parang, luka-luka, mereka juga dilecehkan (tindak asusila),”

Sementara Dandim 1715 Yahukimo Letkol Inf Christian Irreuw mengatakan salah seorang anggotanya terluka akibat serangan KKB. Prada Ansar diketahui mengalami luka akibat terkena rekoset (pantulan peluru).

“Memang benar dalam peristiwa terkait KKB itu Prada Ansar terluka di lengan kanan, namun kondisinya saat ini stabil,”

Penyerangan oleh KKB disebutkan oleh sejumlah pihak telah sangat merugikan banyak pihak, terkait aksi biadab yang dilakukan di Distrik Kiwirok, oleh pengamat Papua bidang keamanan, Stepi Anriani menyesalkan jika aksi penembakan, pengrusakan dan pembakaran terhadap fasilitas umum telah memperpanjang deretan kasus teror yang dilakukan KKB.

“Jika melihat dari berbagai kajian, upaya yang dilakukan KKB hanya untuk mengacaukan situasi keamanan. Sebab tidak ada kaitannya tentang perjuangan (bagi KKB) dengan keberadaan puskesmas, kantor bank, atau bahkan sekolah yang akhirnya sekarang dibakar. Seharusnya fasilitas umum itu dijaga karena memberi manfaat bagi masyarakat sekitar,”

Stepi juga menyoroti terkait kasus serupa dimana seakan-akan banyak pihak yang memilih untuk bungkam dengan kondisi yang terjadi. Dirinya juga mempertanyakan peran Komnas HAM atau setiap organisasi yang sebelumnya banyak berbicara untuk membela hak-hak orang Papua.

“Saya juga soroti organisasi-organisasi yang sebelumnya banyak berbicara tentang HAM di Papua. Kondisi yang saat ini jelas memperlihatkan kebiadaban KKB, lalu kelompok-kelompok itu tidak bersuara sama sekali. Kalau hal itu yang ditunjukkan maka jangan salahkan publik jika ada anggapan kalau mereka juga bagian dari separatis, ungkapnya”

Suaranya para pegia HAM sampai sekarang tidak terdengar setelah 4 prajurit TNI dibantai di Maybrat.